SEO BLOG & TEMPLATES
Topics :
Label
Comments
Diberdayakan oleh Blogger.
Pengunjung
Popular post
-
TRIBUNNEWS.COM , SUMENEP – Sedikitnya 30 aktifis yang tergabung dalam Kaukus Mahasiswa Sumekar (KMS), menggelar aksi demo ke Kantor PT Gara...
-
Bandarlampung, (tvOne) Kepolisian Daerah Lampung memberi perhatian khusus dan sedang melakukan pemeriksaan kebenaran foto ...
-
Picture by Google Tips Cara Mudah Menghafal Al-Quran Tanpa Menghafal (Bagian 1) , menghafal Al Quran sebenarnya sangat mudah hanya saja kit...
-
Sumenep - Ribuan warga di Kec.Kalianget, Talango dan Saronggi hampir bisa dipastikan tidak dapat mengikuti PILGUB JATIM. Pasalnya jauh-jauh ...
-
Barangkali sudah banyak diantara kita yang bisa cek nomor sendiri, namun tidak ada salahnya saya bagikan siapa tahu masih ada yang belum t...
-
Saluran air PT Garam di belakang Puskesmas dan rumah penduduk di Desa Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget Salamet Wahedi - SantriNews.com S...
-
Jam malam ini sudah menunjukkan 22:10 WIB. Mataku udah mulai ngantuk, tapi saya teringat sesuatu yang ingin saya bagikan,,, daripada kelupa...
-
Jakarta, (tvOne) Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Komjen Pol Sutarman mengingatkan masyarakat untuk ...
-
Selasa 3 Desember 2013, terlihat ada suasana yang tidak biasa di sepanjang jalan yang menuju ke lahan pegaraman I Sumenep, tepatnya di ...
-
Karanganyar - Seperti diketahui jalan sepanjang + 6 KM yang membentang dari Marengan hingga Pinggirpapas banyak mengalami kerusakan. Bahkan ...
Followers
Blog Archive
-
▼
2013
(42)
-
▼
November
(31)
- Cara Cek Nomor Sendiri Khusus Pengguna AXIS
- Cara Cek Nomor Sendiri Operator Indosat (Mentari d...
- Nyadar Garam, Ritual Warga Pinggir Papas
- Video Mesum Siswa SMPN 4 Sawah Besar Beredar Luas
- Cara Mudah Download Video Youtube
- Polda Lampung Telusuri Foto Bugil Diduga Sespri Ka...
- Ribuan Warga 3 Kecamatan di Kabupaten Sumenep Tak ...
- Mental Maling Di Negeriku
- Moh Mahfud MD
- Korban Petir Awal Musim Hujan di Sumenep
- Dahlan Iskan: Pebisnis Bukan Selalu Karena Keturunan
- Polisi Sumenep Telisik Video Mesum Santri
- Jumlah Daerah Pemilihan di Kab. Sumenep
- Malaysia Tetapkan Penggunaan Kata "Allah" Hanya un...
- Hasyim Muzadi: tertangkapnya Ketua MK Goncang Kead...
- Kapolri: Hati-hati Simpan Foto Pribadi di Ponsel
- Daftar Calon Tetap (DCT) Anggota DPRD Kabupaten Su...
- Tips Cara Mudah Menghafal Al-Quran Tanpa Menghafal...
- Cara Merawat Komputer Yang Baik
- Asal Usul Gelar Haji di Indonesia
- Tata Cara Shalat Jamak Dan Qasar
- Pawai di Desa Penghasil Garam
- Cara Cek Nomor Sendiri khusus kartu Simpati dan AS...
- Cara Cek Nomor Sendiri khusus kartu XL (2013)
- Cara Bagi Pulsa XL
- Assayyid Muhammad Bin ‘Alawy Al-Maliky Al-Hasany
- Nasib Pendidikan Anak Di Bumi Yang Kaya
- Jalan Sering Banjir, Warga Kalianget Datangi DPRD
- Penyebab Rusaknya Jalan Karanganyar Pinggirpapas
- Santri Desak PT Garam Pedulikan Lingkungan Kumuh
- “Pertarungan” di bumi garam
-
▼
November
(31)
mohon maaf
CB Magazine »
tokoh
»
Moh Mahfud MD
Moh Mahfud MD
Posted by CB Magazine on Sabtu, 23 November 2013 |
tokoh
Mahfud lahir dari rahim Siti Khadidjah di sebuah desa di Kecamatan Omben, Sampang, Madura, 13 Mei 1957, dengan nama Mohammad Mahfud. Dengan nama itu, sang ayah, Mahmodin, berharap anak keempat dari tujuh bersaudara itu menjadi orang yang terjaga. Ia dilahirkan ketika ayahnya bertugas sebagai pegawai rendahan di kantor Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang. Ketika Mahfud berusia dua bulan, keluarga Mahmodin pindah ke Pamekasan, daerah asalnya. Di sana, di Kecamatan Waru, Mahfud menghabiskan masa kecilnya. Kala itu, surau dan madrasah diniyyah adalah tempat Mahfud belajar agama Islam. Ketika berumur tujuh tahun, ia dimasukkan ke Sekolah Dasar Negeri. Sore harinya, ia belajar di Madrasah Ibtida’iyyah. Malam sampai pagi hari, ia belajar agama di surau. Mahfud lalu dikirim ke pondok pesantren Somber Lagah di Desa Tegangser Laok, untuk mendalami agama. Ketika itu ia masih kelas 5 SD. Sekolahnya pun ia lanjutkan di sana.
Pondok Pesantren Somber Lagah adalah pondok pesantren salaf yang diasuh Kiai Mardhiyyan, seorang kiyai keluaran Pondok Pesantren Temporejo atau Temporan. Pondok pesantren itu sekarang diberi nama Pondok Pesantren al-Mardhiyyah, memakai nama pendirinya, Kiai Mardhiyyan, yang wafat pertengahan 1980-an. Meski nilai ujiannya bagus, Mahfud tidak melanjutkan sekolah ke SMPN favorit. Orang tuanya memasukkan dia Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri di Pamekasan. Pada waktu itu, ternyata ada tiga murid yang namanya sama dengannya. Untuk membedakan, akhirnya Mahfud menambahkan inisial MD di belakang namanya. Tanpa sengaja, nama itu tertulis dalam ijazahnya. Kini, inisial menetap di belakang nama Mahfud seperti gelar akademik medical doctor, sebagaimana anggapan sebagian orang.
Sehabis menamatkan PGA selama empat tahun pada 1974, Mahfud terpilih untuk melanjutkan ke Pendidikan Hakim Islam Negeri (PHIN), sekolah kejuruan unggulan milik Departemen Agama di Yogyakarta yang merekrut lulusan terbaik dari PGA dan Madrasah Tsanawiyah seluruh Indonesia. Mantan Menteri Koperasi Zarkasih Noer, mantan Menteri Sekretaris Negara Djohan Effendi, tokoh Majelis Ulama Indonesia Amidhan, dan Wakil Ketua DPR Muhaimin Iskandar merupakan sebagian alumninya. Kini, PHIN diubah menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN).
Pada 1978, Mahfud tamat dari PHIN. Ia lalu meneruskan pendidikan ke Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII). Pada saat yang sama ia juga kuliah Jurusan Sastra Arab Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM). Di Fakultas Hukum, Mahfud mengambil jurusan Hukum Tata Negara.
Padahal, ketika itu ayahnya sudah pensiun. Untuk membiayai dua kuliahnya, Mahfud aktif menulis di surat kabar umum seperti Kedaulatan Rakyat agar mendapat honorarium. Ia juga sibuk berburu beasiswa. Sebagai mahasiswa terbaik, Mahfud berhasil mengantongi beasiswa Rektor UII, beasiswa Yayasan Dharma Siswa Madura, juga beasiswa Yayasan Supersemar.
Mahfud mendapat beasiswa penuh dari UII untuk melanjutkan program pasca sarjana di UGM. Ketika itu, ia mengambil studi ilmu politik. Ia kembali mendapat beasiswa dari Yayasan Supersemar dan dari Tim Manajemen Program Doktor (TMPD) Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk melanjutkan S3. Ia kembali mendalami ilmu hukum tata negara ketika mengambil program doktor di UGM. Sejak SMP, Mahfud remaja tertarik menyaksikan ingar bingar kampanye pemilihan umum. Di situlah bibit-bibit kecintaannya pada politik terlihat. Semasa kuliah, kecintaannya pada politik semakin membuncah. Ia lalu malang melintang di berbagai organisasi kemahasiswaan intrauniversitas seperti Senat Mahasiswa, Badan Perwakilan Mahasiswa, dan pers mahasiswa.
Mahfud juga aktif di organisasi ekstra universitas Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Pilihannya pada HMI didorong oleh pemahamannya terhadap medan politik di UII. Sebab, saat itu untuk bisa menjadi pimpinan organisasi intra kampus harus berstempel aktivis HMI. Sekalipun begitu, dari sejumlah organisasi intra kampus yang pernah ia ikuti, hanya Lembaga Pers Mahasiswa yang paling ia tekuni. Ia pernah menjadi pimpinan di majalah mahasiswa Fakultas Hukum UII, Keadilan. Demikian pula majalah mahasiswa UII, Muhibbah. Karena begitu kritis terhadap pemerintah Orde Baru, majalah Muhibbah yang dipimpinnya dibreidel sampai dua kali. Pertama, dibreidel oleh Pangkopkamtib Soedomo pada 1978. Terakhir, dibreidel oleh Menteri Penerangan Ali Moertopo pada 1983.
Lulus dari Fakultas Hukum pada 1983 Mahfud bekerja sebagai dosen di almamaternya dengan status sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Ketika itu ia melihat, hukum tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya karena selalu diintervensi oleh politik. Energi politik selalu lebih kuat daripada energi hukum. Kekecewaannya pada hukum yang selalu dikalahkan oleh keputusan-keputusan politik menyebabkan Mahfud ingin belajar ilmu politik.
Kesempatan itu ia ambil ketika kuliah S2. Ia banyak berdiskusi dengan dosen-dosen ilmu politik ternama seperti Moeljarto Tjokrowinoto, Mochtar Mas’oed, Ichlasul Amal, Yahya Muhaimin, Amien Rais, dan lain-lain.
Keputusannya mengambil ilmu politik yang berbeda dengan konsentrasinya di bidang hukum tata negara bukan tanpa konsekuensi. Sebab, studi lanjut di luar bidangnya seperti itu tidak akan dihitung dalam jenjang kepangkatannya sebagai dosen. Karena itu, selepas lulus S-2, ia melanjutkan pendidikan doktor (S-3) bidang Ilmu Hukum Tata Negara di Program Pasca Sarjana UGM hingga lulus pada 1993.
Disertasi doktornya tentang politik hukum cukup fenomenal. Hasil penelitiannya menjadi bahan bacaan pokok program pascasarjana bidang ketatanegaraan di berbagai perguruan tinggi, karena pendekatannya mengkombinasikan dua bidang ilmu, yaitu ilmu hukum dan ilmu politik. Dalam sejarah pendidikan doktor di UGM, Mahfud tercatat sebagai mahasiswa doktoral yang lulus cepat. Ia menyelesaikan pendidikannya hanya dalam waktu 2 tahun 8 bulan. Padahal, ketika itu (1993) rata-rata pendidikan doktor diselesaikan selama 5 tahun. Kata Mahfud, semua itu berkat ketekunan dan dukungan dari para promotornya, Prof. Moeljarto Tjokrowinoto, Prof. Maria SW Sumardjono, dan Prof. Affan Gaffar.
Ketiga promotor tersebut juga mengirim Mahfud ke Columbia University New York dan Northern Illinois University DeKalb, Amerika Serikat, untuk melakukan studi pustaka tentang politik dan hukum selama satu tahun. Di New York, ia berkumpul dengan Artidjo Alkostar, senior dan mantan dosennya di Fakultas Hukum UII, yang kini menjadi hakim agung. Sedangkan di Illinois, ia bertemu dengan Andi A. Mallarangeng, kini Menteri Pemuda dan Olah Raga Kabinet Indonesia Bersatu II. Ketika itu, Andi menjadi Ketua Perhimpunan Muslim, sehingga Mahfud diberi satu kamar di sebuah rumah yang dijadikan masjid dan tempat berkumpulnya keluarga mahasiswa muslim di berbagai negara.
Mahfud tercatat sebagai dosen tetap Fakultas Hukum UII pertama yang meraih doktor pada 1993. Dari jabatan asisten ahli, ia melompat menjadi lektor madya, mendahului dosen dan senior-seniornya di sana. Bahkan, tidak sedikit dari dosen dan seniornya itu yang kemudian menjadi mahasiswa atau dibimbing ketika menempuh pendidikan pasca sarjana. Dengan karya tulis yang tersebar berupa buku, jurnal, maupun makalah ilmiah, tak sulit bagi Mahfud untuk meraih gelar akademik tertinggi. Ia pun dikukuhkan sebagai guru besar, 12 tahun sejak ia mengabdi sebagai dosen UII. Dengan usia 41 tahun, ia tergolong sebagai guru besar termuda pada masanya bersama Yusril Ihza Mahendra. Wajar saja, jika dengan kapasitasnya itu ia dipercaya mengajar di 20 perguruan tinggi, termasuk penguji eksternal disertasi doktor untuk hukum tata negara di University of Malaya, Kuala Lumpur.
Menjadi hakim konstitusi, bagi Mahfud, merupakan panggilan hati sebagai ahli hukum tata negara. Selain itu, ia tertarik dengan perkembangan MK. Di luar itu, ia diajak oleh mantan Ketua MK, Jimly Asshiddiqie, yang sama-sama Ketua Asosiasi Pengajar Hukum Tata Negara, untuk berjuang di MK. Bagi Mahfud, kredibilitas MK sebagai lembaga tidak diragukan lagi. Meski ada dua lembaga lain yang juga bagus dan bersih, yaitu Komisi Yudisial dan Komisi Pemberantasan Korupsi, MK masih steril dari sandungan kasus hukum.
Mahfud tidak memasang target sebagai hakim konstitusi. Ia akan bekerja mengalir sesuai kewenangan yang diberikan. Sebab, jabatan hakim konstitusi berbeda dengan birokrasi lain seperti menteri. Sebagai menteri, ia harus kreatif dan mendinamiskan banyak program. Sedangkan menjadi hakim konstitusi justru tidak boleh banyak program. Alasannya, banyak program malah akan berpotensi melanggar kewenangannya.
sumber : http://www.mahkamahkonstitusi.go.id/index.php?page=web.ProfilHakim&id=7
Top 5 Popular of The Week
-
TRIBUNNEWS.COM , SUMENEP – Sedikitnya 30 aktifis yang tergabung dalam Kaukus Mahasiswa Sumekar (KMS), menggelar aksi demo ke Kantor PT Gara...
-
Bandarlampung, (tvOne) Kepolisian Daerah Lampung memberi perhatian khusus dan sedang melakukan pemeriksaan kebenaran foto ...
-
Picture by Google Tips Cara Mudah Menghafal Al-Quran Tanpa Menghafal (Bagian 1) , menghafal Al Quran sebenarnya sangat mudah hanya saja kit...
-
Sumenep - Ribuan warga di Kec.Kalianget, Talango dan Saronggi hampir bisa dipastikan tidak dapat mengikuti PILGUB JATIM. Pasalnya jauh-jauh ...
-
Barangkali sudah banyak diantara kita yang bisa cek nomor sendiri, namun tidak ada salahnya saya bagikan siapa tahu masih ada yang belum t...
-
Saluran air PT Garam di belakang Puskesmas dan rumah penduduk di Desa Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget Salamet Wahedi - SantriNews.com S...
-
Jam malam ini sudah menunjukkan 22:10 WIB. Mataku udah mulai ngantuk, tapi saya teringat sesuatu yang ingin saya bagikan,,, daripada kelupa...
-
Jakarta, (tvOne) Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Komjen Pol Sutarman mengingatkan masyarakat untuk ...
-
Selasa 3 Desember 2013, terlihat ada suasana yang tidak biasa di sepanjang jalan yang menuju ke lahan pegaraman I Sumenep, tepatnya di ...
-
Karanganyar - Seperti diketahui jalan sepanjang + 6 KM yang membentang dari Marengan hingga Pinggirpapas banyak mengalami kerusakan. Bahkan ...


Tidak ada komentar: